Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

* Nasihat Bagi Pemuda Muslim & Penuntut ‘Ilmu

|

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah

Pertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kepada Allah Jalla Jalaluhu, kemudian apa saja yang menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kepada Allah Tabaarakan wa Ta'ala seperti :

[1] Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah Jalla Jalaluhu, dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah Jalla Jalaluhu telah khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.

"Artinya : ... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ...?" [Al-Mujaadilah : 11]

[2] Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian " Thalibul Ilmi" (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya. Diantara perkara-perkara itu :

[a] Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.
[b] Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah meninggalkan "harta warisan" berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana yang bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai mana kita telah ikut menjalani/merasakannya, dimana sepanjang zaman itu dalam kondisi yang sangat gelap gulita.

Meminta bantuan dalam berpendapat dengan berpedoman pada perkataan dan pendapat Salaf, akan sangat membantu kita untuk menghilangkan berbagai kegelapan dan mengembalikan kita kepada sumber Islam yang murni, yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah yang shahihah.

Sesuatu yang tidak tertutup bagi kalian bahwasannya aku hidup di suatu zaman yang mana kualami padanya dua perkara yang kontradiksi dan bertolak belakang, yaitu pada zaman dimana kaum muslimin, baik para syaikh maupun para penuntut ilmu, kaum awam ataupun yang memiliki ilmu, hidup dalam jurang taqlid, bukan saja pada madzhab, bahkan lebih dari itu bertaqlid pada nenek moyang mereka.

Sedangkan kami dalam upaya menghentikan sikap tersebut, mengajak manusia kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. Demikian juga yang terjadi di berbagai negeri Islam. Ada beberapa orang tertentu yang mengupayakan seperti apa yang kami upayakan, sehingga kamipun hidup bagaikan "Ghuraba" (orang-orang asing) yang telah digambarkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam dalam beberapa hadits beliau yang telah dimaklumi, seperti :

"Artinya : Sesungguhnya awal mula Islam itu sebagai suatu yang asing/aneh, dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing"

Dalam sebagian riwayat, Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Mereka (al-Ghurabaa) adalah orang-orang shaleh yang jumlahnya sedikit sekeliling orang banyak, yang mendurhakai mereka lebih banyak dari yang mentaati mereka" [Hadits Riwayat Ahmad]

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda :
"Artinya : Mereka orang-orang yang memperbaiki apa yang telah di rusak oleh manusia dari Sunnah-Sunnahku sepeninggalku".

Aku katakan : "Kami telah alami zaman itu, lalu kami mulai membangun sebuah pengaruh yang baik bagi dakwah yang di lakukan oleh mereka para ghuraba, dengan tujuan mengadakan perbaikan ditengah barisan para pemuda mukmin. Sehingga kami jumpai bahwa para pemuda beristiqomah dalam kesungguhan di berbagai negeri muslim, giat dalam berpegang teguh pada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala mengetahui keshahihannya".

Akan tetapi kegembiraan kami terhadap kebangkitan yang kami rasakan pada tahun-tahun terakhir tidak berlangsung lama. Kita telah dikejutkan dengan terjadinya sikap "berbalik", dan perubahan yang dahsyat pada diri pemuda-pemuda itu, di sebagian negeri[1]. Sikap tersebut, hampir saja memusnahkan pengaruh dan buah yang baik sebagai hasil kebangkitan ini, apa penyebabnya ? Di sinilah letak sebuah pelajaran penting, penyebabnya adalah karena mereka tertimpa oleh perasaan ujub (membanggakan diri) dan terperdaya oleh kejelasan bahwa mereka berada di atas ilmu yang shahih. Perasaan tersebut bukan saja diseputar para pemuda muslim yang terlantar, bahkan terhadap para ulama. Perasaan itu muncul tatkala merasa bahwa mereka memilki keunggulan dengan lahirnya kebangkitan ini, atas para ulama, ahli ilmu dan para syaikh yang bertebaran diberbagai belahan dunia Islam.

Sebagaimana merekapun tidak mensyukuri nikmat Allah Jalla Jalaluhu yang telah memberikan Taufik dan Petunjuk kepada mereka untuk mengenal ilmu yang benar beserta adab-adabnya. Mereka tertipu oleh diri mereka sendiri dan mengira sesungguhnya mereka telah berada pada status kedudukan dan posisi tertentu.

Merekapun mulai mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak matang alias mentah, tidak berdiri diatas sebuah pemahaman yang bersumber dari al-Qur'an dan as-Sunnah. Maka tampaklah fatwa-fatwa itu dari pendapat-pendapat yang tidak matang, lalu mereka mengira bahwasanya itulah ilmu yang terambil dari al-Qur'an dan as-Sunnah, maka mereka pun tersesat dengan pendapat-pendapat itu, dan juga menyesatkan banyak orang.

Suatu hal yang tidak sama bagi kalian, akibat dari itu semuanya muncullah sekelompok orang ("suatu jama'ah") dibeberapa negeri Islam yang secara lantang mengkafirkan setiap jama'ah-jama'ah muslimin dengan filsafat-filsafat yang tidak dapat diungkapkan secara mendalam pada kesempatan yang secepat ini, apalagi tujuan kami pada kesempatan ini hanya untuk menasehati dan mengingatkan para penuntut ilmu dan para du'at (da'i).

Oleh sebab itu saya menasehati saudara-saudara kami ahli sunnah dan ahli hadits yang berada di setiap negeri muslim, agar bersabar dalam menuntut ilmu, hendaklah tidak terperdaya oleh apa yang telah mereka capai berupa ilmu yang dimilikinya. Pada hakekatnya mereka hanyalah mengikuti jalan, dan tidak hanya bersandar pada pemahaman-pemahaman murni mereka atau apa yang mereka sebut dengan "ijtihad mereka".

Saya banyak mendengar pula dari saudara-saudara kami, mereka mengucapkan kalimat itu, dengan sangat mudah dan gampang tanpa memikirkan akibatnya : "Saya berijtihad". Atau "Saya berpendapat begini" atau "Saya tidak berpendapat begitu", dan ketika anda bertanya kepada mereka ; Kamu berijtihad berdasarkan pada apa, sehingga pendapatmu begini dan begitu ? Apakah kamu bersandar pada pemahaman al-Qur'an dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta ijma' (kesepakatan) para ulama dari kalangan Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang lainnya ? Ataukah pendapatmu ini hanya hawa nafsu dan pemahaman yang pendek dalam menganalisa dan beristidlal (pengambilan dalil)?. Inilah realitanya, berpendapat berdasarkan hawa nafsu, pemahaman yang kerdil dalam menganalisa dan beristidlal. Ini semuanya dalam keyakinanku disebabkan karena perasaan ujub, kagum pada diri sendiri dan terperdaya.

Oleh sebab itu saya jumpai di dunia Islam sebuah fenomena (gejala) yang sangat aneh, tampak pada sebagian karya-karya tulis.

Fenomena tersebut tampak dimana seorang yang tadinya sebagai musuh hadits, menjadi seorang penulis dalam ilmu hadits supaya dikatakan bahwa dia memiliki karya dalam ilmu hadits. Padahal jika anda kembali melihat tulisannya dalam ilmu yang mulia ini, anda akan jumpai sekedar kumpulan nukilan-nukilan dari sini dan dari sana, lalu jadilah sebuah karya tersebut. Nah apakah faktor pendorongnya (dalam melakukan hal ini) wahai anak muda ? Faktor pendorongnya adalah karena ingin tampak dan muncul di permukaan. Maka benarlah orang yang berkata.

"Perasaan cinta/senang untuk tampil akan mematahkan punggung (akan berkaibat buruk)"

Sekali lagi saya menasehati saudara-saudaraku para penuntut ilmu, agar menjauhi segala perangai yang tidak Islami, seperti perasaan terperdaya oleh apa yang telah diberikan kepada mereka berupa ilmu, dan janganlah terkalahkan oleh perasaan ujub terhadap diri sendiri.

Sebagai penutup nasehat ini hendaklah mereka menasehati manusia dengan cara yang terbaik, menghindar dari penggunaan cara-cara kaku dan keras di dalam berdakwah, karena kami berkeyakinan bahwasanya Allah Jalla Jalaluhu ketika berfirman.

"Artinya : Serulah manusia kejalan Rabbmu dengan hikmah dan peringatan yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik ..." [An-Nahl : 125]

Bahwa sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu tidaklah mengatakannya kecuali dengan kebenaran (al-haq) itu, terasa berat oleh jiwa manusia, oleh sebab itu ia cenderung menyombongkan diri untuk menerimannya, kecuali mereka yang dikehendaki oleh Allah. Maka dari itu, jika di padukan antara beratnya kebenaran pada jiwa manusia plus cara dakwah yang keras lagi kaku, ini berarti menjadikan manusia semakin jauh dari panggilan dakwah, sedangkan kalian telah mengetahui sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Bahwasanya di antara kalian ada orang-orang yang menjauhkan (manusia dari agama) ; beliau mengucapkan tiga kali".

[Nasehat ini dinukil dari kitab "Hayat al-Albani" halaman : 452-455]


[Disalin dari Majalah : as-Salafiyah, edisi ke 5/Th 1420-1421. hal 41-48, dengan judul asli "Hukmu Fiqhil Waqi' wa Ahammiyyatuhu". Ashalah, diterjemahkan oleh Mubarak BM Bamuallim LC dalam Buku "Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddid dan Ahli Hadits Abad ini" hal. 127-150 Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i.]
_________
Foote Note.
[1] Penyusun katakan : "Sebagaimana yang terjadi di negeri ini, munculnya beberapa gelintir manusia dengan berpakaian "Salafiyah", memberikan kesan seolah-olah mereka mengajak kepada pemahaman Salaf, namum hakekatnya mereka adalah pengekor hawa nafsu dan perusak dakwah Salafiyah, akibatnya mereka hancur berkeping-keping, dan saling memakan daging temannya sendiri. Wal 'iyadzu billahi, kami mohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari nasib yang serupa.

* SEBUAH KOMITMENT BARU (Menjaga Hubungan dalam Contack Online)

|

بسم الله الرحمن الرحيم
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"
Sebuah pertimbangan untuk lebih berhati-hati dan menjaga diri dari dunia contack online fs, chat dan model sejenis
Atau jika tidak bisa, mencoba berpisah (keluar) dengan tenang

(Jika tidak bisa menjaga diri, terhindar dari segala ke sia-sia dan fitnah, dan saudara-saudariku tak juga paham betapa diri yang lemah ini sedang berusaha memperbaiki diri dan jika saudara-saudariku tak paham juga maksud diri ini untuk bisa menjalin manfaat yang baik dan produktif saja)

Dengan ini menyatakan bahwa meskipun banyak manfaat yang bisa didapatkan seperti bisa:
• Memperluas jaringan dengan manusia di seluruh dunia
• Menjalin hubungan yang hampir memudar, bahkan kita bisa bertemu kembali dengan teman-teman lama sebelumnya
• Ajang silaturahim dan taushiah
Namun kadang:
• Niat yang salah, selain sebagi ajang mencari teman (baru atau lama), tapi kadang terbersit mencari jodoh atau yang lain. Itulah kesalahan fatal, FS sudah cukup membuat fitnah (ujian) bagi mata dan hati yang seringkali begitu berat
• Betapa sedih (berat) jika hati tertuju pada tujuan dan niat yang salah
• Sengaja menyapa seorang teman di FS, menyanjung-nyanjungnya agar mau berteman yang mungkin nanti berlanjut chating, telphon, sms, ketemuan dan akhirnya bisa lebih dari sekedar teman (teman tapi mesra, membuka pintu perselingkuhan dan Kemaksiatan)
• Sanjungan yang seperti itu adalah sebuah amal tanpa keihklasan, padahal ikhlas adalah syarat sebuah amal diterima atau tidak, meskipun caranya benar dan sah bila ada unsur riya (syirik kecil) maka akan dimasukkan neraka lebih dulu.
Kebiasaan umum:
• Lebih cenderung memilih list friends lawan jenis
• Kecenderungan tiap chatter dan pengguna fs menyembunyikan identitas aslinya
• Sifat alamiah manusia tidak langsung percaya dengan orang lain yang baru dikenalnya, inilah salah satu alasannya
• Jika awalnya sudah berupa kebohongan maka akan berlanjut pula dengan kebohongan berikutnya, anehnya malah kadang menikmati kepalsuan tersebut.
Akhirnya:
• Mulai sering senyum-senyum bahkan tertawa sendirian seolah lawan bicara yang entah dimana itu sedang berada didepan kita.
• Berkembang menjadi suatu arena '”tebar pesona” diantara para penggunanya. Mulai dari atraksi intelektual, untaian kata indah menyentuh hati hingga rayuan
• Menggeser sedikit demi sedikit norma-norma pergaulan yang awalnya menjadi suatu yang tabu kini bebas ber-“haha-hihi” diajang chatting meski satu sama lain belum betul-betul saling mengenal.
• Mulai mentertawakan bersama hal-hal yang lucu sampai pengungkapan identitas diri yang sebenarnya, memberikan jawaban-jawaban atau solusi atas tiap permasalahan teman bicaranya, kesemuanya masuk dalam skenario tebar pesona
• Muncullah benih-benih harapan baru bahwa ingin menjadikannya lebih dari sekedar teman bicara atau berdiskusi
• Dan akhirnya menjadi “pacaran” di dunia maya
• Hari-hari selanjutnya penuh pesona bunga cinta merona, ayunan jari jemari tuts di keyboard menjadi saksi betapa mereka sedang dibuai asa merenda masa depan. Barisan kata-kata dilayar monitor mulai terukir kata indah penuh makna, perhatian bahkan kata-kata cinta. Lalu timbullah keinginan copy darat
• Tanpa disadari kita sudah melakukan zina hati. Jika chatting yang kita lakukan sudah mengarah pada hal-hal yang tidak ada bedanya dengan orang berpacaran, seperti mengumbar pesona untuk menarik hati, memberi perhatian yang berlebihan (belum sepantasnya), memberikan (menaruh) harapan berlebihan akan cinta dan cita masa depan.
• Bukannya ada larangan melakukan chatting untuk tujuan ta'aruf pra nikah, masalahnya adalah hal itu tidak dikondisikan dan dikomunikasikan sedemikian baik untuk bisa terjaga dari permainan hati yang mudah dipermainkan syaitan
Rambu-rambu:
• Perlunya sikap bijaksana mengarahkan untuk mempererat silaturahim dengan saudara-saudara diseluruh penjuru dunia
• FS (dan situs sejenis serta situs chat seperti YM dan mirc) mungkin bukan bukan situs haram (asal tidak ada isi yang diharamkan, serta tidak mudahnya mengobral aurat dan berikhtilat, termasuk iklan-iklan dan aktivitas user didalamnya) karena substansinya ia hanya fasilitas halal haram tergantung bagaimana kita menggunakannya. Bila kita bergabung karna ingin menjalin silaturahim dengan teman-teman maka justru berpahala. Masalahnya bila ternyata digunakan untuk mencari ikhwan/akhwat yang ganteng/cantik, menonjolkan kelebihan identitas diri, pamer ketampanan/kecantikan di picture, dan lain-lain inilah yang harus diluruskan; niat dan caranya
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُون
“Dan katakanlah kepada lelaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluan-nya" (An-Nur: 30)

• Yang mungkin masih bisa dibenarkan adalah dengan kadar yang wajar, dengan hati yang tetap terjaga dari kemungkinan munculnya hasrat yang cenderung kepada nafsu, dengan sikap dan kata-kata yang tidak akan merusak dan menghilangkan hakikat tujuan dari ta'aruf dan ukhuwah diri dan tidak terjebak pada permainan kata-kata perhatian (taushiah) berselubung cinta.
• Masalahnya, seberapa dari kita yang benar-benar siap dan sanggup melakukan hal tersebut, sedang secara jujur dalam hati terasa agak berat,. Maka sebaiknya lebih baik dan selamat memilih lawan bicara yang sejenis untuk lebih menjaga hati tetap bersih
• Hal yang perlu diperhatikan yaitu pada testimonial (kesaksian). Jarang sekali isi testimonial berupa hal-hal yang buruk, umumnya adalah pujian-pujian yang bisa melenakan si penerima (baik pujian jujur atau bohong), yang jelas pujian yang dilontarkan sipenerima telah meng-approvenya (jadi sudah tahu isinya). Sungguh tidak layak pujian ditampilkan di depan khalayak, apalagi mengoleksinya, sungguh membuat hati kotor. Mintalah fatwa pada hati kita, rasakan kegelisahan karna mengoleksi pujian tersebut. Cukuplah amal-amal kita hanya tersiar di kalangan penduduk langit saja.
Sabda rasulullah, ”Taburkanlah pasir ke wajah orang yang suka memuji-muji”
“Seorang memuji-muji kawannya di hadapan Rasulullah, lalu beliau berkata kepadanya, ”Waspadalah kamu, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya (diucapkan berulang-ulang)” (HR.Ahmad)
• Mengapa dikatakan memenggal leher?, karna hakekatnya pujian itu hanya akan melenakan si penerima dan bila imannya kurang kuat bisa membuatnya ujub (bangga diri), riya (ingin dipuji), sum'ah (ingin kebaikannya tersiar), sehingga hapuslah pahala-pahalanya dan membuatnya masuk neraka. Betapa berdosa kita yang membuat saudara kita yang tadinnya tinggal sejengkal masuk surga menjadi terhempas keneraka akibat ujub, riya, dan sum'ah muncul karna pujian kita. Maka kasihanilah saudara kita, alangkah baiknya kita isi testimonial itu dengan tausiah (nasehat) kepadanya. Ini akan lebih menjaga saudara kita. Cukuplah pujian dan wujud kekaguman disimpan dihati kita masing-masing hingga akhir perjumpaan kita dengan-Nya, hingga selamat menuju kemenangan hakiki di surga.
• Testimonials adalah bagian dari Friendster, namun bila ternyata testimonial malah menjerumuskan saudara kita adalah lebih baik dihindari. Jika kita mencintai saudaramu-saudara kita karena Allah dan menginginkan keselamatan akhiratnya
• FS juga bisa menambah permasalahan yang bisa membuat iman lemah, melakukan kesalahan, dosa dan penyakit hati dan kadang kita bisa menjadi tidak istiqomah, menjadi orang lain diluar hidup nyata yang kita jalani
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُحَرِّمُواْ طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللّهُ لَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan janganlah kamu melampaui batas sesungguhnya Allah tidak suka kepada golongan yang melampaui batas” (Al-Maidah :87)


Peringatan
• Tolak ukur akhirnya untuk memperkuat komitment ini adalah “amanah kita adalah tanggung jawab kita kelak, tiap kita akan merasakan akibat dari amal perbuatan kita sendiri”. Segera sadari dan temukan bahwa FS (bisa) lebih banyak mudharat dari pada manfaat yang didapatkan, apalagi jika kita tidak bisa menjaga diri dan selalu berhati-hati serta kurang ilmu maka akan segera merasakan keburukannya saja

Arti seorang teman dari sisi Agama
• Adannya batasan akan jenis hubungan antara laki-laki dan perempuan, bukannya kebebasan seperti arti teman pergaulan ala barat yang melanggar aturan (Al Quran dan Sunnah)
• Di FS (dan situs sejenis) ini dengan bebasnya mata memandang wajah-wajah (cantik) dari seorang akhwat (meskipun berjilbab) dan pergaulan bebas berkumpul tanpa keperluan yang mustahak dan darurat. sekiranya wujud kamera pada zaman nabi, para sahabat dan rasulullah tidak akan berposting ria bercampur antara lelaki dan perempuan dalam foto. Tidak sah perkumpulan seperti itu disebut "ukhwah fillah", ditepi pantai yang indah atau di kawasan rekreasi. Dan tidak sah pergaulan bebas itu disebut modern, seolah-olah umat islam ini sama saja seperti barat yang biasa berfoto laki-laki perempuan bersama, hanya kerudung (sebab tidak pantas disebut jilbab atau hijab) yang membedakanya. astagfirullah …
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (An-Nur: 31)

“Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, maka apabila dia keluar (dari rumah) , syaitan akan menghiasinya” (Dikeluarkan oleh Al Bazzar dan At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Irwaul Ghalil jilid I)
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَ
“Dan sesungguhnya pada peribadi rasulullah itu sebagai contoh teladan yang terbaik.” (Surah Al-Ahzab : 21)

• Diantara sebagian mereka yang berjilbab malah sengaja memajang foto mereka tanpa ingat hari yang akan mempersalahkannya atas kesengajaan memajang foto itu yang terlihat orang banyak bahkan menimbulkan fitnah bagi mata dan hati yang melihatnya, sadarlah saudariku…
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
“Janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu satu perbuatan yang sangat keji dan seburuk-buruk jalan (dalam memenuhi fitrah)” (Al-isra: 32).

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
“Sesunnguhnya nafsu itu senantiasa mengarah kepada kejahatan…” (Yusuf: 53)

Dan hendaknya menjaga rasa malu
“Sesungguhnya tidaklah datang malu melainkan membawa kebaikan” (hadith sahih riwayat Bukhari no 6117 dan Muslim no 37)

• Banyak juga group-group dan ruangan publik situs baik portal maupun situs spesifik yang banyak bercampur bebas berkenalan dan menyapa, sekalipun mengunakan nama-nama agama dan berbahasa arab.

• Banyak juga percakapan basa-basi, kosong (bodoh) diruangan publik tersebut meski atas nama web islam dan juga dengan mudah ditemui di ruang chat dan blog
• Tiada gunanya jamaah-jamaah islam jika sekiranya dengan gerakan dan persatuan tersebut malah lebih merusak dan mencampur-baurkan hubungan antara laki-laki dengan perempuan bahayanya lagi, dengan mengatas-namakan agama

Hubungan seorang Teman:
• Fs juga bisa lebih bahaya jika digunakan utk dakwah, sebab sulitnya istiqomah menjaga hati dan bergaul dengan benar disini, dan juga sulitnya beristiqomah dengan cara, ilmu dan tujuan yang senantiasa sesuai dengan al Quran dan contohnya dari rasulullah serta tujuan hanya karna-Nya
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنك
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar" (At-Taubah: 71)


Pesan
• Bagi muslimin, hendaklah menjaga diri dengan iman dan ilmu serta akhlak yang shaleh mentaati perintah Allah dan rasul-Nya, berusaha menghindari fitnah wanita dan godaan percampuran bebas, karena laki-laki yang shaleh adalah yang berusaha senantiasa menjaga dirinya dari maksiat kepada Allah
Sebagaimana sabda rasulullah : " Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di hari tiada naungan (perlindungan) selain dari perlindungan Allah...pemuda yang hidup dalam ibadah kepada Allah (jauh dari maksiat) ....pemuda yang apabila digoda oleh wanita yang cantik dan berkedudukan untuk melakukan maksiat lalu berkata : Sesungguhnya aku takut kepada Allah..." (Hadith sahih riwayat Bukhari dan Muslim)
Maka apabila kita di goda seorang muslimat dengan menerima kehadiran mereka tanpa diundang dalam hidup kita maka katakan wahai umat nabi muhammad,"Sesungguhnya aku takut kepada Allah"

• Teruntuk kaum muslimah untuk mengingat:"sekuat-kuatnya wanita muslimah yang shalehah adalah lemah, maka jangan sampai membiarkan jalan menuju perzinaan (kesempatan itu) terjadi/ada. Dan jagalah diri kalian salah-satunya dengan mengulurkan jilbab-jilbab kalian
• Maka hentikanlah kata-kata lemah-lembut, mendayu-dayu, dan menggoda, jadilah muslimah shalehah yang menjaga diri, baik dalam ucapan, tulisan, perangai serta perbuatan. Ingat penjelasan Imam Qurthubi rahimahullah dari hadist ini:
Dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya penduduk syurga yang paling sedikit adalah wanita”
(hadith riwayat Muslim dan Ahmad)
Yaitu : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk syurga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat kerana kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum lelaki dari akhirat disebabkan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.”
(Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tadzkirah halaman 369)

• Sahabat dan saudara-saudariku sekalian, jangan halalkan apa yang Allah haramkan walaupun atas dasar ukhuwwah, sebab banyak cara yang benar dan sah dalam berukhuwwah yangs esuai syariat islam. Jangan sampai kita merusakkan nama islam dan mencemarinya dengan perbuatan kita yang salah sehingga karna banyak seakan-akan benar, jangan sampai kita sendiri yang memberikan keteladanan keburukan dan kesesatan
• Manfaatkan blog, post bulletin dan jurnal sebagai media dakwah, sebagaimana para ulama terdahulu yang berdakwah juga lewat tulisan dan kitab-kitab tulisan mereka

Dengan ini ana memberi sebuah peringatan bagi saudara-saudariku sekalian
• Ana akan dengan sangat terpaksa menghapus segala bentuk:
o Tulisan yang berisi pujian dan segala yang menggoda (menjadi ujian) hati
o Testimonials yang berisi gambar maupun animasi makhluq
o Kata-kata yang kurang layak dan sekedar basa-basi, sia-sia
o Profle dengan gambar yang terbuka auratnya atau banyak memamerkan diri di profilenya berupa hal yang bersifat dunia dan kesia-siaan belaka
o Menjadikan ini sebagai ajang spam
• Yang paling ana cari, saudara-saudariku yang:
• Rajin menulis tulisan yang bermanfaat (baik di blog, post bulletin maupun jurnal)
• Nasihat telah disampaikan dan ilmu harus dicari, maka apabila kita menyadari semoga kita bisa segera bertaubat atas segala kesalahan

Mohon perhatian
• Harap saudara-saudariku baca dengan hati terbuka
• Silahkan tegur segala kekhilafaan dan kesalahan ana, baik dalam tulisan ini maupun dalam hal yang lain, silahkan tegur ikhlas karna Allah ke: ahmadsyarifuddin24@gmail.com
• Tulisan ini adalah bentuk cinta dan perhatian kepada saudara-saudariku sekalian karena Allah lewat perintah-Nya untuk saling nasehat-menasehti dalam kebaikan dan sabar, dan bukan bermaksud yang lain
Segala puji hanya milik-Nya, semoga Allah menerima diri kita semua sebagai hamba yang terbaik dalam mengabdi pada-Nya dan hanya kepada-Nyalah kita semua kembali
Wallahu'alam bisshawab
Wassalaamu ‘alaikum warah matullahi wabarakatuh.

* Prikehidupan Sehari-hari yang Islami

|

• Kata Pengantar
Saudaraku....
Dengan penuh pengharapan bahwa kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka kami sampaikan risalah yang berisikan pertanyaan-pertanyaan ini kehadapan kita untuk direnungkan dan kita jawab dengan perbuatan.

Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, agar kita bisa mengambil manfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita sendiri, sudah sejauh mana dan ada dimana posisi kita selama ini.

Saudaraku...
Risalah ini dinukilkan dari buku saku yang sangat bagus dan menawan yaitu Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) dari hal. 51 - 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dan diterjemahkan oleh saudara kita Fariq Gasim Anuz semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalasnya dengan pahala dan surganya

• Kehidupan Sehari-hari Yang Islami
1. Apakah kita selalu shalat Fajar berjama'ah di masjid setiap hari?
2. Apakah kita selalu menjaga Shalat yang 5 waktu berjamaah (awal waktu) di masjid?
3. Apakah kita hari ini membaca Al-Qur'an?
4. Apakah kita rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib?
5. Apakah kita selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib?
6. Apakah kita (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang kita baca?
7. Apakah kita (hari ini) mengingat Mati dan Kubur?
8. Apakah kita (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya?
9. Apakah kita telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebanyak 3 kali, agar memasukkan kita ke dalam Surga? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :"Wahai Allah Subhanahu wa Ta'ala masukkanlah ia ke dalam Surga".
10. Apakah kita telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak 3 kali? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :"Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka"
Hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya :"Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak 3 kali, Surga berkata :"Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak 3 kali, neraka berkata :"Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka". (Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6).
11. Apakah kita (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam?
12. Apakah kita pernah berfikir untuk menjauhi (menjaga diri) dari pergaulan/teman-teman yang kurang baik?
13. Apakah kita telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau?
14. Apakah kita (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala?
15. Apakah kita selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari?
16. Apakah kita (hari ini) telah memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa ta'ala atas dosa-dosa (yang kita perbuat)?
17. Apakah kita telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati Syahid?
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya :"Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur"
(Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).
18. Apakah kita telah berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar Ia menetapkan hati kita atas agama-Nya?
19. Apakah kita telah mengambil kesempatan untuk berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di waktu-waktu yang mustajab?
20. Apakah kita telah mengumpulkan artikel dan pustaka serta membeli buku-buku dan kitab agama (Islam) untuk memahami agama? (dengan memilih yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena banyak buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar)
21. Apakah kita telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah?
Karena setiap mendo'akan mereka kita akan mendapat kebajikan pula.
22. Apakah kita telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam?
23. Apakah kita telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya?
24. Apakah kita hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya?
25. Apakah kita dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala saja?
26. Apakah kita telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri?
27. Apakah kita telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala?
28. Apakah kita telah menda'wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda?
29. Apakah kita termasuk orang yang berbakti kepada orang tua?
30. Apakah kita mengucapkan "Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji'uun" jika mendapatkan musibah?
31. Apakah kita hari ini mengucapkan do'a ini : "Allahumma inii a'uudubika an usyrika bika wa anaa a'lamu wastagfiruka limaa la'alamu"
"Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui"
Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. (Lihat Shahih Al-Jami' No. 3625).
32. Apakah kita berbuat baik kepada tetangga?
33. Apakah kita telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki?
34. Apakah kita telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, debat-kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya?
35. Apakah kita takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian?
36. Apakah kita selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan yang kita lakukan?
• Penutup
Saudaraku ..
Jawablah pertanyaan-pertanyaan diatas dengan perbuatan (amal ikhtiyar) kita, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah...

Marja’ :
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/277

* Hakikat Pemimpin

|

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selalu membutuhkan adanya pemimpin. Di dalam kehidupan rumah tangga diperlukan adanya pemimpin atau kepala keluarga, begitu pula halnya di masjid sehingga shalat berjamaah bisa dilaksanakan dengan adanya orang yang bertindak sebagai imam, bahkan perjalanan yang dilakukan oleh tiga orang muslim, harus mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin perjalanan. Ini semua menunjukkan betapa penting kedudukan pemimpin dalam suatu masyarakat, baik dalam skala yang kecil apalagi skala yang besar. Untuk tujuan memperbaiki kehidupan yang lebih baik, seorang muslim tidak boleh mengelak dari tugas kepemimpinan, Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang-orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat (HR. Ahmad).
Di dalam Islam, pemimpin kadangkala disebut imam tapi juga khalifah. Dalam shalat berjamaah, imam berarti orang yang didepan. Secara harfiyah, imam berasal dari kata amma, ya’ummu yang artinya menuju, menumpu dan meneladani. Ini berarti seorang imam atau pemimpin harus selalu didepan guna memberi keteladanan atau kepeloporan dalam segala bentuk kebaikan. Disamping itu, pemimpin disebut juga dengan khalifah yang berasal dari kata khalafa yang berarti di belakang, karenanya khalifah dinyatakan sebagai pengganti karena memang pengganti itu dibelakang atau datang sesudah yang digantikan. Kalau pemimpin itu disebut khalifah, itu artinya ia harus bisa berada di belakang untuk menjadi pendorong diri dan orang yang dipimpinnya untuk maju dalam menjalani kehidupan yang baik dan benar sekaligus mengikuti kehendak dan arah yang dituju oleh orang yang dipimpinnya kearah kebenaran.

Dari pengantar di atas, terasa dan terbayang sekali betapa dalam pandangan Islam, pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting, karenanya siapa saja yang menjadi pemimpin tidak boleh dan jangan sampai menyalahgunakan kepemimpinannya untuk hal-hal yang tidak benar. Karena itu, para pemimpin dan orang-orang yang dipimpin harus memahami hakikat kepemimpinan dalam pandangan Islam yang secara garis besar dalam lima lingkup.

1. Tangung Jawab, Bukan Keistimewaan.Ketika seseorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga atau institusi, maka ia sebenarnya mengemban tanggung jawab yang besar sebagai seorang pemimpin yang harus mampu mempertanggungjawabkannya,. Bukan hanya dihadapan manusia tapi juga dihadapan Allah Swt. Oleh karena itu, jabatan dalam semua level atau tingkatan bukanlah suatu keistimewaan sehingga seorang pemimpin atau pejabat tidak boleh merasa menjadi manusia yang istimewa sehingga ia merasa harus diistimewakan dan ia sangat marah bila orang lain tidak mengistimewakan dirinya.

Oleh karena itu, ketika Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang cemerlang datang ke sebuah pasar untuk mengetahui langsung keadaan pasar, maka ia dating sendirian dengan penampilan biasa, bahkan sangat sederhana sehingga ada yang menduga kalau ia seorang kuli panggul lalu orang itupun menyuruhnya untuk membawakan barang yang tak mampu dibawanya. Umar membawakan barang orang itu dengan maksud menolongnya, bukan untuk mendapatkan upah. Namun ditengah jalan, ada orang memanggilnya dengan panggilan yang mulia sehingga pemilik barang yang tidak begitu memperhatikannya menjadi memperhatikan siapa orang yang telah disuruhnya membawa barangnya. Setelah ia tahu bahwa Umar sang khalifah yang disuruhnya, iapun meminta maaf, namun Umar merasa hal itu bukanlah suatu kesalahan. Karena kepemimpinan itu tanggung jawab atau amanah yang tiodak boleh disalahgunakan, maka pertanggungjawaban menjadi suatu kepastian, Rasulullah Saw bersabda: Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Pengorbanan, Bukan FasilitasMenjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi justru ia harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanan, apalagi ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit. Karenanya dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz sebelum menjadi khalifah menghabiskan dana untuk membeli pakaian yang harganya 400 dirham, tapi ketika ia menjadi khalifah ia hanya membeli pakaian yang harganya 10 dirham, hal ini ia lakukan karena kehidupan yang sederhana tidak hanya harus dihimbau, tapi harus dicontohkan langsung kepada masyarakatnya. Karena itu menjadi terasa aneh bila dalam anggaran belanja negara atau propinsi dan tingkatan yang dibawahnya terdapat anggaran dalam puluhan bahkan ratusan juta untuk membeli pakaian bagi para pejabat, padahal ia sudah mampu membeli pakaian dengan harga yang mahal sekalipun dengan uangnya sendiri sebelum ia menjadi pemimpin atau pejabat.

3. Kerja Keras, Bukan Santai.Para pemimpin mendapat tanggung jawab yang besar untuk menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan yang menghantui masyarakat yang dipimpinnya untuk Selanjutnya mengarahkan kehidupan masyarakat untuk bisa menjalani kehidupan yang baik dan benar serta mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Untuk itu, para pemimpin dituntut bekerja keras dengan penuh kesungguhan dan optimisme.

Saat menghadapi krisis ekonomi, Khalifah Umar bin Khattab membagikan sembako (bahan pangan) kepada rakyatnya. Meskipun sore hari ia sudah menerima laporan tentang pembagian yang merata, pada malam hari, saat masyarakat sudah mulai tidur, Umar mengecek langsung dengan mendatangi lorong-lorong kampung, Umar mendapati masih ada rakyatnya yang masuk batu sekedar untuk memberi harapan kepada anaknya yang menangis karena lapar akan kemungkinan mendapatkan makanan. Meskipun malam sudah semakin larut, Umar pulang ke rumahnya dan ternyata ia memanggul sendiri satu karung bahan makanan untuk diberikan kepada rakyatnya yang belum memperolehnya.

4. Kewenangan Melayani, Bukan Sewenang-Wenang.Pemimpin adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi pemimpin atau pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk bisa melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya, Rasulullah Saw bersabda: Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka (HR. Abu Na’im).

Oleh karena itu, setiap pemimpin harus memiliki visi dan misi pelayanan terhadap orang-orang yang dipimpinnya guna meningkatkan kesejahteraan hidup, ini berarti tidak ada keinginan sedikitpun untuk menzalimi rakyatnya apalagi menjual rakyat, berbicara atas nama rakyat atau kepentingan rakyat padahal sebenarnya untuk kepentingan diri, keluarga atau golongannya. Bila pemimpin seperti ini terdapat dalam kehidupan kita, maka ini adalah pengkhianat yang paling besar, Rasulullah Saw bersabda: Khianat yang paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya (HR. Thabrani).

5. Keteladanan dan Kepeloporan, Bukan Pengekor.Dalam segala bentuk kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan pelopor, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ketika seorang pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya, maka ia telah menunjukkan kejujuran itu. Ketika ia menyerukan hidup sederhana dalam soal materi, maka ia tunjukkan kesederhanaan bukan malah kemewahan. Masyarakat sangat menuntut adanya pemimpin yang bisa menjadi pelopor dan teladan dalam kebaikan dan kebenaran.

Sebagai seorang pemimpin, Rasulullah Saw tunjukkan keteladanan dan kepeloporan dalam banyak peristiwa. Ketika Rasulullah Saw membangun masjid Nabawi di Madinah bersama para sahabatnya, beliau tidak hanya menyuruh dan mengatur atau tunjuk sana tunjuk sini, tapi beliau turun langsung mengerjakan hal-hal yang bersifat teknis sekalipun. Beliau membawa batu bata dari tempatnya ke lokasi pembangunan sehingga ketika para sahabat yang lebih muda dari beliau sudah mulai lelah dan beristirahat, Rasul masih terus saja membawanya meskipun ia juga nampak lelah. Karena itu seorang sahabat bermaksud mengambil batu yang dibawa oleh nabi agar ia yang membawanya, tapi nabi justeru menyatakan: “kalau kamu mau membawa batu bata, disana masih banyak batu yang bisa engkau bawa, yang ini biar tetap aku yang membawanya”. Karenanya para sahabat tetap dan terus bersemangat dalam proses penyelesaian pembangunan masjid Nabawi.

Dari penjelasan di atas, kita bisa menyadari betapa penting kedudukan pemimpin bagi suatu masyarakat, karenanya jangan sampai kita salah memilih pemimpin, baik dalam tingkatan yang paling rendah seperti kepala rumah tanggai, ketua RT, pengurus masjid, lurah dan camat apalagi sampai tingkat tinggi seperti anggota parlemen, bupati atau walikota, gubernur, menteri dan presiden. Karena itu, orang-orang yang sudah terbukti tidak mampu memimpin, menyalahgunakan kepemimpinan untuk misi yang tidak benar dan orang-orang yang kita ragukan untuk bisa memimpin dengan baik dan kearah kebaikan, tidak layak untuk kita percayakan menjadi pemimpin. wollohu a'lam.

* Gejala Futur, Waspadalah....!

|

Terbukti dengan mulai ogah-ogahannya saya datang ke pengajian setiap pekanDengan alasan yang klasik : sibuk, lelah, kuliah, inilah, itulah ??? Padahal...
Saya ini sedang futurLihat penampilan saya yang banyak berubah:klimis tanpa jenggot, pakai baju koko nggak betah. ...
Saya ini sedang futurBaca Qur’an kurang, nonton TV doyanBaca Qur’an tak berkesan, nonton layar emas ketagihan
Saya ini sedang futurTak lagi pandai menjaga pandangan, sering curi-curi sasaran
Saya ini sedang futurJarang baca buku tentang Islam-lagi demen baca koran
Saya ini sedang futurWalau takut azab, tak pernah sekalipun terisak–malah senang terbahak-bahak
Saya ini sedang futurMalas berdoa, inginnya pasrah tanpa usaha
Saya ini sedang futurLihat perut saya makin buncit karena junk food dan pangsitKalau infak sedikiiit, sudah mulai pelit
Saya ini sedang futurSibuk ngurusin pekerjaan, ogah nanganin binaan
Saya ini sedang futurTak mudah lagi bersyukur, sudah mulai tidak jujur
Saya ini sedang futurSenang disanjung, dikritik murung
Saya ini sedang futurSemakin tipis rasa sosial, sifat cuek makin tebal
Saya ini sedang futurSangat sukar bangun malam untuk tafakur, lebih senang peluk guling mendengkur
Saya ini sedang futurMalas ngurusin keluarga, rajin menggunjing tetangga,sedikit sekali muhasabah sering sekali menggibah
Yaa..memang saya sedang futur. Aku berlindung kepada Allah dari yang demikian.

* Bila Aktivis Dakwah Jatuh Cinta

|


muda muslim, ternyata cinta juga merupakan ujian sekaligus cobaan buat orang shaleh, ahli ibadah, termasuk aktivis dakwah. Kok bisa? Iya, karena cinta nggak cuma bisa mengubah penampilan aja. Dia juga bisa membelokkan niat yang udah lurus. Komitmen dakwah bisa berubah. Aktivitas dakwah yang awalnya diniatkan untuk mendapat ridho Allah bisa terkontaminasi saat VMJ meradang. Ini yang kudu diwaspadai.

mana aja, kapan aja, dan siapa aja dijamin nggak akan bisa lolos dari serangan virus yang satu ini. Bukan DBD, Flu Bu-rung, atau Worm. Tapi virus yang kekuatannya bisa bikin sang pejuang mati-matian ngapalin lagu melankolis First Love-nya Nika Costa atau Shoulder to Cry On-nya Tommy Page. Meski nilai bahasa Inggris di raport-nya delapan ngakak alias 3! Pede banget kan?

Yup. Virus yang dikenal dengan julukan virus merah jambu (VMJ) pembangkit rasa cinta ini kagak ada matinya. Malah mungkin kita berharap nggak mati-mati. Coz, hidup kita bakal terasa garing bin monoton tanpa kehadiran cinta. Baik cinta kepada yang Maha Pencipta maupun kepada lawan jenis. Ali bin Abdah berkata, �tak mungkin seseorang menghindar dari cinta, kecuali orang yang kasar perangainya, kurang waras, atau tidak mempunyai gairah.� Maka berbahagialah orang-orang yang masih bisa mencintai dan dicintai. Ciee�.Aa Gym banget neh!

Bener sobat, nggak lengkap rasanya jadi manusia kalo kita nggak bisa mencintai dan dicintai. Karena ini fitrah. Jadi wajar aja kalo virus ini merajalela mencari mangsa di setiap kesempatan. Maka di kalangan selebritis dikenal istilah �cilok� alias cinta lokasi. Sebutan untuk pasangan seleb yang terlibat jalinan asmara karena sering ketemu di lokasi syuting.

Ssttt�.jangan bilang-bilang ya. Ternyata di kalangan aktivis dakwah juga ada �cilok� lho. Hah?! Masa� sih? Beneran. Cuma di kalangan jilbaber en jenggot simpatik ini, �cilok� berubah menjadi �CBSA�. Mentang-mentang mayoritas pelajar. Do you know CBSA? Ini nih: Cinta Bersemi Saat Aktif. (ehm..ehm..KLBK euy!) Tapi jangan salah, meski �Cilok� dan �CBSA� sama-sama mengandung unsur cinta, tapi keduanya tetep beda. Kalo �CBSA�, lebih terjaga dari kontaminasi. Sementara �cilok� lebih kepada cinta yang ternodai. Ups!

So, kalo kamu pengen tahu lebih banyak tentang CBSA, kamu bisa tanya guru SD masing-masing. Tapi, kalo penasaran ama �CBSA�, kamu dah bener kalo baca Studia kali ini. Yuuuuk!

ROMANTIKA AKTIVIS DAKWAH
Sobat muda muslim, kalo mengamati pergaulan para aktivis dakwah mungkin ada beberapa pertanyaan yang mampir di benak kita. Apalagi keseharian mereka yang gaul ama sesamanya. Cewek ama cewek. Cowok ama cowok. Kesannya antilawan jenis banget. Apa mereka steril dari rasa cinta? Apa yang ada dalam benak mereka cuma dakwah doang? Apa menjadi aktivis dakwah kudu punya antivirus untuk menghadang VMJ? Apa-apanya dong�eh, kok jadi lagu sih?

Nggak usah dibikin pusing, sampe nyanyiin lagu Nek Titik Puspa gitu. Para aktivis dakwah itu sama aja kayak kita. Sejenis manusia yang punya rasa cinta. Cuma bedanya, mereka nggak show of forces untuk urusan ini. Apalagi sampe deklarasi segala di acara reality show Katakan Cinta atau Playboy Kabel. Nggak lah yauw. Mereka punya prinsip yang bagi sebagian orang terdengar �aneh� dalam hal pengungkapan rasa cinta. Anti-pacaran en nggak phobi ama nikah dini. Catet ya!

Nah, masalahnya, kita sering bertanya-tanya, gimana mungkin bisa terjalin rasa cinta di antara mereka kalo mereka sendiri anti-gaul bebas. Bukankah gaul bebas itu terbukti menjadi media subur untuk memupuk rasa cinta kepada lawan jenis? Eit, jangan salah. Nggak gaul bebas bukan berarti nggak berinteraksi dengan lawan jenis. Emangnya penghuni dunia dakwah cuma satu jenis? Tetep, aktivitas dakwah juga mengharuskan mereka berhubungan dengan lawan jenis. Apalagi yang tergabung dalam sebuah organisasi. Kudu ada konsolidasi dakwah. Inget-inget tuh!

Sebagai aktivis dakwah, tentu konsolidasi itu mengharuskan pihak ikhwan (muslim) menjalin kerjasama dengan para anggota �diva� alias divisi akhwat (muslimah). Saling tukar informasi. Rapat bulanan untuk evaluasi kinerja dakwah sekaligus planning untuk masa mendatang. Sampe tergabung dalam kepanitiaan acara. Dan nggak mungkin kegiatan kayak di atas dilakukan tanpa adanya pertemuan. Walau mungkin rapat bisa aja pake fasilitas teleconference. Tapi itu pasti bakal menyedot banyak biaya. Bisa-bisa acaranya nggak jadi digelar gara-gara nggak ada biaya. Berabe kan?

Nah, dari seringnya pertemuan itulah bisa menyita perhatian khusus antar aktivis. Meski nggak terungkap, VMJ tengah mengamati mangsa yang hendak diburu. Satu sama lain saling menyimpan rasa kagum. Dari sinilah tumbuh perasaan simpati, empati, yang seterusnya bisa bikin jatuh hati. Walau hanya tersimpan rapi dalam diary atau menghiasi relung hati. Intinya, malu-malu tapi mau!

Proses tumbuh dan mewabahnya VMJ di kalangan aktivis, nggak jauh beda dengan �cilok� ala seleb. Cinta bersemi saat aktif dalam dakwah. Makanya kita nggak usah ragu bin worried untuk jadi seorang aktivis dakwah. Pergaulan mereka yang terkesan anti-lawan jenis, hanya salah satu cara buat nunjukkin kalo Islam juga punya aturan maen dalam pergaulan. Justru kita kudu bangga jadi aktivis. Karena untuk urusan jodoh, Allah bakal ngasih pasangan hidup yang �qualified� buat para aktivis pengemban dakwah yang istiqomah.

Firman Allah Swt:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

�Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang (baik) pula.� (QS an-N�r [21]: 26)

MENGENDALIKAN RASA CINTA
Sobat muda muslim, nggak salah kalo cinta bisa mendera siapa aja. Termasuk para aktivis dakwah. Tapi tetep kita kudu waspada ama VMJ ini. Soalnya orang bisa berubah karena kasmaran. Yang pasti nggak berubah jadi Ksatria Baja Hitam. Tapi perubahan yang lambat laun nampak dalam diri kita. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin menuliskan komentar sejumlah orang tentang pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.

Di antaranya sebagai berikut: �Cinta itu bisa menyucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi yang ahli ibadah�.

Nah, lho? Ternyata cinta bukan cuma Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki seperti kata Sheila On Tujuh. Tapi juga merupakan ujian sekaligus cobaan buat orang shaleh, ahli ibadah, termasuk aktivis dakwah. Kok bisa? Iya, karena cinta nggak cuma bisa mengubah penampilan aja. Dia juga bisa membelokkan niat yang udah lurus. Komitmen dakwah bisa berubah. Aktivitas dakwah yang awalnya diniatkan untuk mendapat ridho Allah bisa terkontaminasi saat VMJ meradang. Ini yang kudu diwaspadai.

Tentu kita nggak pengen dong, aktivitas dakwah kita yang mulia jadi kacau-beliau gara-gara kita terpana pesona cinta. Makanya kita kudu pandai mengendalikan rasa itu. Seperti kata dokter, mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk urusan cinta juga sama. Lebih baik kita mencegah aktivitas yang bikin VMJ meradang. Ada dua hal yang bisa kita jalanin sebagai langkah pencegahan (kayak 3M DBD aja neh!).

Pertama, dari dalam diri kita. Di sini kita kuatkan benteng pertahanan dari serangan rasa cinta yang membabi buta. Caranya, rajin puasa sunat. Rasulullah menganjurkan pemuda-pemudi untuk berpuasa sebagai satu perisai takwa. Perbanyak membaca al-Qur�an, shalat tahajjud, dan berdzikir kepada Allah saat godaan itu datang. Perbanyak juga doa kita kepada Allah. Minta kepada-Nya biar kita dijauhin dari perbuatan yang haram, minta juga kepada-Nya biar kita dikasih jodoh yang qualified dunia-akhirat. Mau dong?

Kedua, dari luar diri kita. Ini juga nggak kalah pentingnya. Faktor lingkungan gampang banget meluluhlantakkan pertahanan yang kita bangun. Itu sebabnya, kita kudu bisa menata lingkungan sekitar kita. Misalnya, meminimalisasi pertemuan dan komunikasi dengan lawan jenis. Walau itu untuk konsolidasi dakwah. Sorry, bukannya mo ngerecokin, cuma kita khawatir, jiwa muda kita tak kuasa meredam gejolak rasa cinta itu. Kita juga bisa gaul ama temen-teman yang bisanya nggak cuma manas-manasin doang. Tapi mampu membantu kita menjaga izzah alias harga diri. Sehingga kita bisa belajar menundukkan pandangan. Baik terhadap para �macan� (makhluk cantik) mau pun terhadap media �syerem� yang bisa memacu adrenalin kita.

Kita kudu nyadar kalo seorang aktivis dakwah sering jadi panutan dan teladan bagi orang lain. Nggak cuma Allah yang mengawasi tiap omongan ama tingkah lakunya, tapi juga umat. Gimana jadinya kalo pas ngisi pengajian begitu bersemangat bilang pacaran itu haram. Tapi, pas doi lagi kasmaran, perilakunya nggak beda ama aktivis pacaran. Apalagi pake ngeles dengan istilah �pacaran islami�. Idiih�malu ama umat tuh! Firman Allah Swt: �Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS ash-Shaf [61]: 3)

MENENTUKAN PRIORITAS
Sobat muda muslim, kalo kamu udah bisa atau minimal lagi belajar mengendalikan rasa cinta, sekarang kamu udah pantes buat belajar menentukan prioritas. Karena untuk urusan ekspresi cinta, Islam cuma mengatur dua tahap. Khitbah dan nikah. Nggak ada lagi. Masalahnya, kadang para aktivis dakwah yang mayori-tas pelajar terbentur dengan banyak hal sampe kerepotan memilih satu di antara dua pilihan itu. Kalo pun ada yang berani, lebih didominasi faktor emosi. Bisa jadi was-was sang target �disamber� duluan ama yang laen (Emangnya bis kota maen serobot?)

Kalo mau khitbah dulu, kecil kemungkinan bisa bertahan sampe kamu lulus sekolah atau kuliah terus dapet kerja. Bawaannya pasti pengen segera ijab qabul. Padahal, segala kebutuhan keuangan masih disubsidi penuh ama ortu. Bakal berabe ke depannya. Perhatian kamu bakal terpecah. Antara beresin kuliah atau matengin rencana nikah. Bisa-bisa nggak optimal dua-duanya. Padahal kehidupan rumah tangga bakal menuntut suami untuk mencari nafkah materi. Nggak cuma bermodalkan cinta. Sementara ijazah pendidikan pun adakalanya punya peranan bagi sang suami demi memperoleh nafkah.

Nah, kalo udah gini bagusnya kita pusatkan perhatian pada aktivitas tholabul �ilmi yang lagi digeluti. Biar masa depan juga terbingkai dengan rapi. Tapi, bukan berarti kita ngelarang kamu mikirin soal nikah lho. Nggak. Silakan aja kalo kamu mau mulai mempelajari soal pernikahan lebih dalam. Karena terpancing ama senior yang bilang nikah itu nikmat, indah dan ibadah, misalnya. Tapi kamu kudu siap hadapi risiko yang bakal menyedot perhatian kamu. Berani ambil risiko? Pikirkan dengan mateng!

Oke deh sobat. Kita percaya kamu-kamu bisa mengambil pilihan dengan bijak. Jangan sampe CBSA bikin aktivitas dakwah kamu kendor. Catet, sekali lagi kita ngingetin, dakwah itu untuk mendapat ridho Ilahi. Bukan karena orang yang dikasihi. Dan jangan takut keduluan, karena jodoh masing-masing nggak akan kelayapan. Oke? Tetap semangat![]

Photobucket Photobucket